Babi: Bukti Ilmiah Terkini Mungkin Akan Mengejutkan
4.7
(13)

Apakah Anda suka makan daging babi? atau apakah Anda pernah makan bacon, ham, pepperoni, atau turunannya? Kami akan menunjukkan informasi terbaru tentang makanan tersebut, yang mungkin akan mengejutkan Anda.

Statistik konsumsi daging

Daging babi adalah daging yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Dari total konsumsi daging yang pada tahun 2017, sekitar 40,4% adalah konsumsi daging babi, diikuti oleh konsumsi daging ayam pada kisaran 32,4%, yang ditunjukkan pada Gambar 1. (National Pork Board. 2018).

Gambar 1. Rasio Konsumsi Daging Dunia Tahun 2017

Data menunjukkan bahwa konsumsi daging babi di seluruh dunia terus meningkat dari tahun ke tahun, dan masih menjadi daging yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia tiap tahunnya. Meskipun konsumsi daging hewan lain juga meningkat, daging babi selalu berada dalam daging yang paling banyak diproduksi. Grafik peningkatan produksi daging dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Produksi daging di dunia menurut jenis hewan ternak

Setiap negara memiliki tren konsumsi yang berbeda-beda. Tetapi Cina menyumbang sekitar 60% total konsumsi daging babi per kapita. Selain itu, Gambar 3 menunjukkan produksi daging babi di seluruh dunia, dimana Cina, Rusia, Eropa, dan Amerika merupakan produsen daging babi terbesar di dunia.

Gambar 3. Volume produksi daging babi di seluruh dunia (dalam Ton)

Namun, meskipun daging babi paling banyak dikonsumsi, hampir semua dokter hebat akan memberitahu Anda untuk menghindari makan babi. Bahkan beberapa dari mereka sudah menulisnya di blog atau situs web mereka. Jadi, jika Anda tidak pernah sekalipun makan daging babi, maka itu bagus, dan tetaplah seperti itu.

Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan semua fakta tentang daging babi dan turunannya. Terlebih lagi, kami akan berusaha untuk menulis lebih dari satu referensi untuk setiap pembuktian fakta, dan akan mencoba untuk memberikan hasil penelitian ilmiah terkini untuk setiap buktinya.

Kebiasaan babi yang menjijikkan

Kebiasaan babi sangat berbeda dari hewan berkaki empat lainnya. Mereka adalah hewan yang agak kotor, yang dianggap sebagai “tempat sampah hidup” yang dapat membersihkan semua sampah di peternakan manapun. Babi dapat memakan apa saja yang mereka temukan, termasuk air seni dan kotoran mereka sendiri, serta mayat babi atau hewan lain, bahkan tanah (Axe, 2016; Qamar dan Raza, 2012).

Selain itu, babi adalah hewan yang malas, tidak tahan terhadap sinar matahari, dan tidak gesit. Namun, mereka adalah hewan yang paling rakus dalam makan dibandingkan dengan hewan ternak lainnya.

Permasalahan sistem tubuh dan racun

Secara umum, hewan dan manusia mengekstrak racun dan komponen lain dalam makanan yang berbahaya bagi sistem tubuh, dan mengeluarkannya melalui urin dan ekskresi. Seekor sapi bisa memakan waktu sekitar satu hari untuk mencerna makanannya agar bersih dari racun. Di sisi lain, seekor babi mencerna semua makanan mereka hanya dalam waktu sekitar empat jam (6 kali lebih cepat dari sapi). Oleh karena itu, sistem pencernaan tercepat ini tidak akan menghilangkan racun berlebih dari makanan, dan banyak racun yang masih tertinggal di dalam tubuh babi. (Axe, 2016)

Pada point sebelumnya menyatakan bahwa babi tidak tahan terhadap sinar matahari, dengan kata lain, babi tidak menyukai iklim panas. Ini karena kurangnya sistem kelenjar keringat, yang membuat mereka sulit untuk berkeringat, meskipun banyak orang mengklaim bahwa babi dapat berkeringat (Kruszelnicki, 2008). Hal ini membuat lebih banyak endapan racun yang tetap berada di dalam tubuh babi.

Meskipun diketahui bahwa babi mengandung racun, racun ini tidak bisa dihancurkan hanya dengan memasak (Westphal dan Westphal, 2015). Karena itu, ketika manusia mengonsumsi daging babi, semua racun ini berpindah ke manusia yang mengkonsumsinya.

Pada hasil penelitian tentang unsur racun, menunjukkan bahwa daging babi memiliki konsentrasi logam berat seperti As, Cd, Hg. Oleh karena itu, paparan jangka panjang terhadap keracunan logam ini (bahkan tingkat rendah) dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang ditandai dengan disfungsi tubular. (Milićević, dkk, 2009). Selain itu, racun lainnya adalah residu dari dioksin, aditif, dan obat-obatan hewan ternak. Terlebih lagi, kadang-kadang selama pemrosesan daging bisa menambahkan lebih banyak zat beracun. (Hanh, dkk, 2015)

Pembawa parasit

Salah satu alasan paling penting menjauhi daging babi adalah sejumlah besar parasit hidup pada babi. Ada beberapa catatan diagnostik tentang banyaknya jumlah dan jenis parasit pada babi di semua usia, yang dapat berdampak pada kesehatan, dengan efek mulai dari penyakit klinis, debilitasi, dan bahkan mungkin kematian (Corwin, 1997).

Parasit utama yang dapat ditularkan oleh babi yakni cacing Trichinella spp. dan Taenia spp., dan protozoa Toxoplasma gondii dan Sarcocystis spp. Parasit-parasit itu bertanggung jawab atas sebagian besar penyakit karena memakan daging babi. (Djurković-Djaković, dkk, 2013)

Alasan kontra

Orang-orang membuat alasan bahwa parasit ini dapat dibunuh dengan memasak daging babi sekitar 170-180 ° F. Sayangnya, penelitian ini dilakukan di laboratorium. Sementara dalam kasus sebenarnya, memasak dilakukan di dapur khas, tanpa sterilisasi saat menyiapkan daging babi, sehingga penghapusan kontaminasi tidak dapat dijamin. (Westphal and Westphal, 2015)

Beberapa penelitian menemukan bahwa walaupun infeksi parasit dari daging babi relatif rendah, risikonya tetap merupakan bahaya bagi manusia. Data yang tidak dipublikasikan telah menunjukkan bahwa berdasarkan penelitian nasional baru-baru ini, ada perkiraan sekitar 120.000 hingga 300.000 orang per tahun telah terinfeksi trichiniasis di Amerika Serikat. (Zimmermann dan Zinter, 1971)

Beberapa metode diujicobakan untuk menghilangkan Trichinella dan Taenia dari babi, tetapi praktik-praktik tersebut dapat menyebabkan infeksi pada hewan-hewan itu, dan pada kasus terburuknya, dapat menyebabkan cedera. (Kniel, 2013)

Lemak

Daging babi adalah salah satu makanan dengan lemak jenuh tinggi, yaitu mulai dari 9 gram hingga setinggi 35 gram per 3 ons (85g) tergantung pada resep, cara memasak, dan metode penyajian (USDA, 2018).

Wabah Penyakit

Mengkonsumsi daging babi dapat menimbulkan banyak risiko penyakit. Sebagian besar disebabkan oleh infeksi parasit dan/atau racun yang terkandung di dalam dagingnya.

Potensi bahaya virus baru

Penelitian terkini mengidentifikasi virus baru dalam daging babi, yang dapat menimbulkan kekhawatiran tentang potensinya untuk mengancam kesehatan hewan lain dan bahkan manusia. Virus ini disebut Porcine deltacoronavirus yang pada 2012 pertama kali ditemukan pada ternak babi di Cina. Selanjutnya, terdeteksi di AS pada tahun 2014 saat ada wabah diare pada ternak babi di Ohio. Saat ini, telah terdeteksi di negara lain juga (2018). Penyakit ini bisa menyebabkan diare akut, muntah, dan bisa berakibat fatal. Virus baru ini berpotensi menginfeksi berbagai spesies, termasuk manusia. Namun, saat ini, tidak ada kasus manusia yang didokumentasikan, namun masih diselidiki dalam beberapa penelitian. (Crane, 2018)

Infeksi Trichinella

Trichinella adalah salah satu spesies yang paling dapat beradaptasi dengan babi domestik maupun liar. Gambar 4 menunjukkan daerah distribusi Trichinella papuae (Tpa) T. pseudospiralis dari Amerika utara (TpsN T. pseudospiralis dari Eropa dan Asia (TpsP) T. pseudospiralis dari Tasmania (TpsA) Trichinella spiralis (Tsp) dan T. zimbabwensis (Tzi) (Gottstein, Pozio, dan Nöckler, 2009).

Gambar 4. Peta wilayah distribusi Trichinella

Penyebab utama infeksi Trichinella adalah mengonsumsi daging babi mentah atau kurang matang (Gottstein, Pozio, dan Nöckler, 2009). Oleh karena itu, dapat dilihat hubungan antara konsumsi daging babi dan daerah distribusi Trichinella, lihat Gambar 3 dan Gambar 4.

Namun, hal yang menyedihkan terjadi pada populasi Muslim (yang dilarang untuk mengkonsumsi daging babi) di Turki pada tahun 2004. Wabah besar trichinellosis terjadi, dikarenakan ada oknum yang mencampur daging sapi dengan daging babi secara ilegal yang tidak diketahui asalnya. Dilakukan oleh seorang tukang daging grosir, yang telah menjual kepada restoran atau pedagang kecil dengan harga lebih murah dari harga daging sapi normal. (Akkoc, dkk, 2009).

Risiko sistiserkosis

Risiko umum mengonsumsi daging babi berasal dari infeksi Taenia yang dapat menyebabkan sistiserkosis (cysticercosis). Sistiserkosis pada babi sangat endemik di Asia (terutama Cina), Amerika Latin, dan Afrika sub-Sahara.

Selain itu, neurosistiserkosis adalah bentuk paling berbahaya dari sistiserkosis. Ini disebabkan oleh adanya kista di sistem saraf pusat, yang merupakan penyebab utama epilepsi atau aktivitas otak yang tidak normal. Gejala epilepsi dapat menyebabkan sensasi yang tidak biasa, perilaku yang tidak biasa (kejang), atau bahkan bisa membuat kehilangan kesadaran. (Onyett, 2014)

Gambar 5. Risiko sistiserkosis di seluruh dunia

Cara paling sederhana untuk melihat hubungan antara makan daging babi dan endemik sistiserkosis adalah membandingkan Gambar 3 dan Gambar 5. Dari kedua gambar tersebut, jelas terlihat bahwa Cina dan Amerika memiliki risiko tertinggi. Namun, endemik Afrika disebabkan oleh sanitasi atau kebersihan yang rendah, selain dari konsumsi daging babi.

Efek minor

Hasil penelitian menemukan efek kecil lain saat makan daging babi dalam jangka waktu lama, yaitu berdampak negatif pada bau badan yang dirasakan (Havlicek dan Lenochova, 2006). Selain itu, sering mengonsumsi bacon dapat meningkatkan risiko terkena kanker kandung kemih (Michaud, dkk, 2006).

Sudut pandang agama

Larangan mengkonsumsi babi sudah dinyatakan sejak lama, yang sudah tertulis di beberapa kitab suci agama. Karena itu, bagi mereka yang beriman, cukup ikuti apa pun yang tertulis dalam kitab suci agamanya.

Al-Qur’an, kitab suci umat Islam dengan jelas menyebutkannya:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Al Qur’an Surat Al-Baqarah [2:173]

Alkitab juga dengan jelas menyebutkannya:

Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.

Imamat 11:7-8

Denominasi agama Kristen yang melarang konsumsi daging babi yaitu Ortodoks Ethiopia, Akar Ibrani, Yahudi Mesianik, Rastafarian, Advent Hari Ketujuh, dan United Church of God, yang didasarkan pada Imamat 11, Ulangan 14, Yesaya 65 dan Yesaya 66 (Axe, 2016)

Dilema daging babi

Jika Anda berpikir Anda hanya makan produk daging babi “kualitas tinggi”, maka pikirkan kembali dengan hati-hati. Karena mengkonsumsi daging babi yang kurang matang memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi Trichinella yang dapat menyebabkan trichinosis. Bahkan meskipun dimasak dengan sempurna, masih mengandung beberapa risiko racun lainnya. Karena dagingnya sudah terkontaminasi dengan hormon dan/atau pestisida, hal ini bisa lebih buruk lagi jika dimasak dalam suhu tinggi. Namun, jika terlalu matang akan meningkatkan jumlah zat karsinogenik, seperti amina heterosiklik, yang dapat menyebabkan risiko beberapa jenis kanker. (Mercola, 2008).

Di tempat lain, ada klaim menyesatkan tentang “Bebas Hormon” atau “Bebas Antibiotik” ketika berbicara tentang daging babi. Mungkin benar, dan hormon tambahan tidak diizinkan di beberapa negara. Namun, hal ini tentang babi itu sendiri, kondisi peternakan dan penggunaan obat umum merupakan masalah utama (Axe, 2016).

Kesimpulan

Jika Anda tetap ingin makan babi, itu pilihan Anda. Seperti pilihan untuk tetap merokok atau minum alkohol, tidak ada alasan bagi kami untuk memaksa Anda meninggalkannya. Namun, artikel-artikel yang sudah dibahas di sini hanya memberikan sedikit informasi tentang babi yang mempengaruhi kesehatan Anda. Ada hubungan yang jelas antara mengonsumsi / memproduksi babi dan efek endemik pada manusia. Terlebih lagi, tidak ada suhu yang aman untuk memasak daging babi untuk menghilangkan semua parasit dan racun.

Kita tahu banyak situs web atau jurnal menjelaskan manfaat makan daging babi olahan berkualitas tinggi. Namun demikian, risiko mengonsumsinya jauh lebih tinggi dan berbahaya daripada manfaatnya. Juga, Anda bisa mendapatkan manfaatnya dengan mengonsumsi daging lain, seperti ayam, daging sapi, atau bahkan makanan laut (yang lebih sehat).

Jika Anda membaca hingga baris ini, maka saya pikir Anda adalah orang pintar yang suka membaca. Jadi, Anda bisa melakukan riset sendiri, dan mempertimbangkan apa yang sudah ditulis dalam banyak kitab suci agama tentang larangan mengonsumsi daging babi.

Referensi

Akkoc, N.; Kuruuzum, Z.; Akar, S.; Yuce, A.; Onen, F.; Yapar, N.; Ozgenc, O.; Turk, M.; Ozdemir, D.; Avci, M.; Guruz, Y.; Oral, A. M.; dan Pozio, E. 2009. A Large‐Scale Outbreak of Trichinellosis Caused by Trichinella britovi in Turkey. Zoonoses Public Health, Volume 56, Issue 2, pp. 65-70. https://doi.org/10.1111/j.1863-2378.2008.01158.x

Axe, Josh. 2016. Why You Should Avoid Pork. Online, draxe.com. Diakses 20 Maret 2019.

Corwin, Robert M. 1997. Pig parasite diagnosis. Swine Health and Production Vol 5, Number 2, pp67-70. Diagnostic Notes. aasv.org

Crane, Misti. 2018. New pig virus found to be a potential threat to humans. Medical Xpress: Diseases, Conditions, Syndromes. Online. Medical Xpress. Diakses 22 Maret 2019.

Djurković-Djaković, O.; Bobić, B.; Nikolić, A.; Klun, I.; Dupouy-Camet, J. 2013. Pork as a source of human parasitic infection. Clinical Microbiology and Infection Volume 19, Issue 7, pp. 586–594. https://doi.org/10.1111/1469-0691.12162.

Gottstein, Bruno; Pozio, Edoardo; and Nöckler, Karsten. 2009. Epidemiology, Diagnosis, Treatment, and Control of Trichinellosis. Clinical Microbiology Reviews, 22 (1), pp.127-145. https://doi.org/10.1128/CMR.00026-08

Hanh, Tran Thi Tuyet; Duc, Nguyen Thi Minh; Duc, Phuc Pham; Tuat, Chu Van; and Nguyen-Viet, Hung. 2015. Chemical hazards in pork and health risk: A review. Vietnam Journal of Public Health 35: 7–16.https://hdl.handle.net/10568/65157

Havlicek, Jan; and Lenochova, Pavlina. 2006. The Effect of Meat Consumption on Body Odor Attractiveness. Chemical Senses, Volume 31, Issue 8, pp 747–752. https://doi.org/10.1093/chemse/bjl017

Kniel, K. 2013. Progress in intervention programs to eradicate foodborne helminth infections. Advances in microbial food safety, Chapter 19. Woodhead Publishing Series in Food Science, Technology and Nutrition, pp. 385-397. https://doi.org/10.1533/9780857098740.4.385

Kruszelnicki, Karl. 2008. Sweat like a pig?. Great Moments In Science. Online. ABC Science. Diakses 22 Maret 2019.

Mercola, Joseph. 2008. Are There Deadly Superbugs in Your Pork?. Online. mercola.com. Diakses 22 Maret 2019.

Michaud, Dominique S.; Holick, Crystal N.; Giovannucci, Edward.; and Stampfer, Meir J. 2006. Meat intake and bladder cancer risk in 2 prospective cohort studies., The American Journal of Clinical Nutrition, Volume 84, Issue 5, pp. 1177–1183. https://doi.org/10.1093/ajcn/84.5.1177

Milićević, D. R.; Jovanović, M.; Jurić, V. B.; Petrović, Z. I.; and Stefanović, S. M. 2009. Toxicological assessment of toxic element residues in swine kidney and its role in public health risk assessment. International journal of environmental research and public health, 6(12). https://doi.org/10.3390/ijerph6123127

National Pork Board. 2018. Pork Quick Facts – World Per Capita Pork Consumption. Online, pork.org. Diakses 18 Maret 2019.

Onyett, Heather. 2014. Cysticercosis and Taeniasis. Canadian Paediatric Society. Online. kidsnewtocanada.ca. Diakses 22 Maret 2019.

Qamar, Muhammad Fiaz; and Raza, Ifrah. 2012. Scientific evidences that pig meat (pork) is prohibited for human health. Scientific Papers, Animal Science, Series D, vol. LV.

USDA. 2018. USDA National Nutrient Database for Standard Reference Legacy Release, April 2018. Online. usda.gov. Diakses 22 Maret 2019.

Westphal, Deborah M.; and Westphal, Glenn H. 2015. What Elite Athletes Eat: The Real Wellness. CeeJayEnterprizes.

Zimmermann, W. J.; and Zinter, D. E. 1971. The Prevalance of Trichiniasis in Swine in the United States, 1960-70. HSMHA Health Reports, Vol. 86, No. 10, pp. 937-945. https://doi.org/10.2307/4594337

Gambar sampul diambil dari: pxhere.com

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 13

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Ditulis oleh Philip Faster

Artikel ini mendapatkan 1 komentar

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *